Aku telah berkelana di ceruk mana, demi cinta yang tak mungkin itu. Kini aku sedar di sini, mendapati diriku tak lebih daripada seorang anak kampung di sudut dunia yang tak dipedulikan siapa pun, yang tak pernah tampak di peta mana pun. Tapi aku tahu, cinta pertama itu masih akan membawaku ke tempat - tempat asing yang tak pernah kubayangkan.
Kesepian tiba - tiba menusukku dari segala penjuru. Dadaku disesakkan sesuatu yang tak dapat kufahami. Kulihat sekeliling, tempat ini, pekan ini, kampung ini, seperti cerita P. Ramli yang selalu diulang tayang, tapi waktu masih tersasar ke dalamnya dan terperangkap. Perasaanku masih tak berubah, cuma benci dan rindu membunuh segala kenangan itu.
Aku tak mampu, satu saat aku teringat suaramu, menyanyikan lagu sendu, berusaha memerdu- merdukan suara. Saat cinta menyambarku untuk kali pertama, dan kurasa bahagia sampai rasanya sungai mengalir hanya demiku, purnana tak akan terbit kalau bukan keranaku. Aku terbuai dengan rasa indah itu. Bertapa dahsyat.
Kerana miski bertahun -tahun telah berlalu, aku ingat peristiwa kau menegurku di dalam ribuan manusia, sementara menunggu dewan wayang buka. Aku membalas dengan senyuman dari hati yang tersenyum riang. waktu yang paling indah.
No comments:
Post a Comment